• Selayang Pandang

  • Arsip

  • Desember 2010
    S S R K J S M
    « Nov   Jan »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Tertinggi

    • Tak ada

Pasangan Perseorangan Heri – Agustina menggugat KPU Pemalang


Senin, 6 Desember 2010. Pemilukada Pemalang telah menghasilkan pasangan calon terpilih yaitu pasangan Junaedi – Agung dengan perolehan suara sah 264.224 Atau 46.52 %. Ini berarti hanya satu putaran dan menangkal issu yang selama ini berhembus yaitu akan terjadi pemilihan dua putaran.

Pelaksanaan pemilukada ternyata berjalan lancar dan aman, namun masih menyisakan masalah yaitu dengan diajukannya KPU Pemalang di PTUN Semarang oleh pasangan Perseorangan Heri – Agustina yang tidak diloloskan oleh KPU Pemalang sebagai peserta Pemilukada Pemalang 2010.

Gugutan Heri – Agustina diajukan ke PTUN tanggal 20 Oktober. Menurut Heri – Agustina KPU Pemalang dianggap: Pertama,  melakukan pelanggaran dalam penyusunan Tahapan pemilukada Kabupaten Pemalang tahun 2010. Kedua , Heri – Agustina berpendapat bahwa KPU Pemalang telah menjegal proses Pencalonannya. Ketiga, KPU Pemalang dianggap telah membiarkan PPS dan PPK tidak memberikan Berita acara hasil verifikasi Administrasi dan Faktual kepada balon Peseorangan. Keempat, Heri – Agustina memvonis bahwa KPU Pemalang telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan peraturan perundangan terutama asas hokum pemerintah yang baik yaitu asas ketelitian, asas kehati-hatian, asas kecermatan formal.

Masalah Pencalonan Heri-Agustina

Beberapa permasalahan yang mengemuka  dari pencalonan Perseorangan Heri –Agistina adalah :

  1. Pada saat penyerahan berkas dukungan awal adalah berkas dukungan tidak ditata secara rapi, berkas dukungan dalam keadaan tercampur antara berkas asli dan berkas fotokopi dan tanpa ditandatangani pasangan calon yang bermaterai.
  2. Pada perbaikan dukungan juga telah mengulang dengan tidak rapinya berkas dukungan sehingga menyulitkan KPU untuk memilah berkas yang asli dan fotokopi.
  3. Pasangan calon tidak mempersiapkan tim kampanye dengan baik.
  4. Pasangan calon tidak melakukan kerjasama dengan para verifikator yaitu memberitahukan para tim kampanye kepada petugas PPS dan PPK.
  5. Tidak konsisten dalam bimbingan teknis pada saat sosialisasi pencalonan terutama tata cara verifikasi yang sudah disepakati.

 

Berangkat dari kerumitan dari berkas administrasi dan berkas dukungan maka telah menimbulkan akibat yaitu berkas administrasi Heri kurang yaitu tidak adanya legalisir untuk ijasah SD dan berkas dukungan hanya sekitar 3.000-an  yang memenuhi syarat. Mengapa demikian ? Hal ini karena pada saat diverifikasi pasangan calon tidak bisa menghadirkan para pendukung sesuai berkas dukungan. Juga dilapangan ternyata tidak ada tim kampanye dari Heri – Agustina yang menghubungi para petugas PPS dan PPK. Mungkin dari sinilah awal dari kegagalan pasangan Heri – Agustina, yang tidak bisa menghadirkan tim kampanye beserta para pendukungnya di depan PPS untuk dilakukan verifikasi administrasi dan faktual.

Sikap KPUD

KPU Pemalang tentu akan taat asas dan aturan dalam mencermati gugutan Heri – Agustina di PTUN Semarang. KPU telah mempersiapkan jawaban atas gugutan Heri – Agustina sesuai proses dan tahapan yang telah dilakukan KPUD. KPU Pemalang akan menjelaskan secara detail proses pencalonan di depan persidangan. Pada hari Rabu, nanti KPUD akan hadir kembali di PTUN untuk kelima kalinya dengan Ketua dan anggota lengkap serta didampingi sekretaris KPUD dan Kasubag Teknis.

Semoga KPU Pemalang tabah dan memenangkan gugatan atas nama Heri- Agistina yang gagal  sebagai peserta Pemilukada Pemalang.(SAF)

Satu Tanggapan

  1. Sebuah himbauan menyejukkan. Kita sesama manusia harus saling menghargai dan menghormati. Lihatlah filosofi semut. Kenapa ini perlu, sebab di dunia ini tak ada kebenaran mutlak. Kecuali hukum fisika. Itu juga tidak mutlak penuh. Dan bagi kami orang Cina/Tionghoa, kami orang hanya lebih suka yang klasik yaitu yang ikut Muhammadiyah atau NU. Kami tidak suka yang jenggot2 seperti orang2 PKS, atau orang2 Muslim ektrim lainnya, seperti aliran Maliki, Hambali dan lainnya yang baru “diimpor” ke Indonesia bbelum lama, dan cenderung ekstrim, ada yang pakai jengot, norak. Ahmadiyah sebetulnya baik dan orang-orangnya tidak ekstrim. Tapi karena baik dan bisa banyak pengikut, maka difitnah dan dijegal bahkan mereka dibunuh. Padahal, negeri ini bukan negara Islam, tapi sekuler berdasarkan Ketuhanan YME seperti pada Pancasila, dasar negara, ini sangat penting. Artinya, orang boleh beragama apasaja memilih aliran apasaja selama tidak melanggar hukum nasional.

    Dan ini soal penting rek. Perombakan kabinet? Mutlak penting. Bayangkan, seorang menteri diangkat hanya karena dulu suka demo dan sok aksi di depan Kedubes Amerika memanfaatkan isu laris-manis yaitu Palestina-Israel.
    Padahal itu hanya untuk mendapat kursi menteri atau persentase perolehan dalam pemilu. Itu permainan mudah dibaca dari PKS. Kini terbukti sudah bahwa Tifatul Sembiring tidak kapabel. Semua orang tahu pasti dan harusnya dia sudah di-reshuffle sejak dulu. SBY sendiri sejak dulu sudah di atas angin, padahal, dia menang hampir mutlak pada pemilu 2009. Tapi SBY takut tanpa alasan, dengan memutuskan membuat “jaring pengaman” tak perlu yaitu koalisi bersama PKS dan Golkar. Sekarang SBY baru tahu kalau Tifatul itu tidak berguna. Negara mau dikemanakan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: